Postingan

Menampilkan postingan dengan label food story

Manisnya Memori Semangkok Kolak Durian

Gambar
Memasuki bulan Desember hingga akhir Januari seperti saat ini, selain musim penghujan, agaknya juga cocok jika menyebut rentang waktu tersebut sebagai musim durian. Buktinya, saya banyak menjumpai penjual buah tersebut di tepi jalan raya yang biasa saya lewati sehari-hari. Baik itu dengan digantung ataupun disusun di atas mobil bak terbuka. Ketika melintasi jalan-jalan tersebut, terkadang saya sengaja menurunkan laju motor saya, sambil mengubah arah pandangan saya menuju buah berduri tersebut. Sungguh mengoda. Apalagi jika aromanya yang khas sampai tertangkap indra penciuman saya, meskipun samar-samar. Harumnya.. begitu batin saya. . Meskipun setiap melintasi penjual King of Fruit itu muncul rasa “kepingin”, nyatanya sampai hari ini saya belum sekalipun berhenti di depan salah satu dari mereka. Entahlah, Cuma ingin saja, tidak benar-benar ingin –hayo, yaopo iki maksude, haha.. Namun, belakangan, dari pada keinginan untuk membeli dan menikmati buah tersebut, pikiran saya tertuju p...

Sebungkus Gethuk yang Mahal...

Gambar
  Sabtu pagi –pekan lalu, saya diminta ibu untuk membeli jajanan gethuk. Bagi yang belum tahu, gethuk adalah makanan yang terbuat dari singkong kukus yang ditumbuk dan biasa dinikmati dengan taburan parutan kelapa. Kami biasa membeli gethuk di penjual keliling di daerah tempat tinggal kami. Kami biasa memanggil penjual makanan tersebut "Mbak Dhiroh". Di antara beberapa jenis makanan yang dijajakan, ada nasi kuning, nasi jagung, ketan sambel, gethuk, sawut, urap-urap, dan bothokan. Beragam makanan itu diletakkan di dalam keranjang yang ada di bagian depan sepeda, dan belakang sepeda (tempat boncengan). Biasanya Mbak Dhiroh sudah lewat depan rumah kami jam 6-an. Sambil mengayuh sepedanya, Mbak Dhiroh meneriakkan nama-nama makanan yang dijual. "Sego kuning, sego jagung..." "Ketan sambel, gethuk, sawut..." "Urap-urap, bothokan... " Meskipun bertubuh kurus, suaranya cukup kencang. Dari kejauhan.. Kami sudah bisa mendengar suara Mbak Dhiroh. ...

Bagi saya, terang mbulan dan martabak manis itu BEDA!

Gambar
  "Saya lebih suka terang mbulan ketimbang martabak manis". Di suatu Sabtu malam, seorang teman memberi saya sepotong terang mbulan mini. Ah, entahlah... Ini efek malam Minggu seorang jomblo atau memang saya yang cenderung melankolis –mudah baper, saya tidak paham. Yang jelas, ketika saya menerima pemberian terang mbulan dari seorang teman, kalimat di atas muncul di benak saya. Mungkin banyak yang bertanya-tanya... “Lah, bedane terang mbulan karo martabak manis iki opo?” “terang mbulan sama martabak manis, bukannya sama ya?” Ya, bagi teman-teman yang berasal dari daerah Jawa Timuran , seperti saya, tidak akan menjumpai apa perbedaan terang mbulan dan martabak manis. Bentuknya sama. Pilihan topping ya sama. Bahkan sekarang lebih variatif, nggak cuma mumet di cokelat-keju-kacang. Soal rasa? Ya jelas, makanan manis ini sama-sama enak. Hemat saya sih, itu hanya perkara beda penyebutan. Mau terang mbulan, martabak manis, martabak Bandung, Hok Lo Pan.. Setiap penyebutan mem...